Uruguay Kesulitan Maksimalkan Potensi Forlan-Suarez-Cavani

 

caVAni suarez forlan

Uruguay Kesulitan Maksimalkan Potensi Forlan-Suarez-Cavani

Bursa Taruhan Piala Dunia – Meneruskan tren positif yang mereka buat saat mencapai semifinal Piala Dunia 2010, kemenangan melawan Paraguay dengan skor 3-0 dalam Copa America di tahun yang sama, menahbiskan posisi Uruguay sebagai tim yang patut dihormati di Amerika Latin, tapi mereka yang sekadar menonton skor akhir pertandingan yang melibatkan Uruguay akan menyadari satu hal yang tak wajar di skuad arahan Oscar Tabarez.

Uruguay memenangi Copa dengan gaya, mereka berhasil melakukan counter attack saat Paraguay berusaha keras mencetak gol. Pemain pengganti Edinson Cavani menyambut umpan silang sempurna dari luis Suarez. Kemudian penyerang Liverpool menyundul umpan dari Diego Forlan yang beroperasi agak ke belakang untuk menyempurnakan kemangan Uruguay.

Forlan, Suarez, dan Cavani adalah trip penyerang maut, hanya beberapa negara yang memiliki kualitas serangan setara dengan mereka – tapi gol dari skema serangan balik di Copa menunjukkan link up yang menarik antara mereka bertiga yang jarang ditunjukkan – Tabarez sampai sekarang susah payah menemukan cara untuk membuat tiga pemain itu dapat bermain bersama dengan baik.

Tabarez memakai formasi dasar 4411 dengan Forlan dan Suarez di lini depan. Forlan yang sekarang kecepatannya menurun bermain lebih kedalam, menjadi penghubung antara gelandang dan serangan sementara Suarez bekerja untuk membongkar pertahanan lawan, membuat pergerakan tanpa bola untuk membingungkan defender lawan, dan bisa mencari celah untuk umpan terobosan.

Saat Brendan Rodgers bereksperimen menempatkan Suarez di posisi lebih ke dalam, dia tampil sangat baik ketika menjadi ujung tombak serangan Uruguay – yang membuat Tabarez merasa mustahil melibatkan Cavani dalam serangan Uruguay. Selama dua tahun, Tabarez berhadapan dengan situasi sulit, Cavani dan Suarez yang memiliki rekor gol menakjubkan di klubnya, sementara performa Forlan yang menurun drastic, tapi dia memiliki kemampuan menjadi partner yang baik bagi kedua pemain itu, Forlan adalah pemain non-egoistik yang sempurna sebagai nomor 10 Uruguay.

Karena putus asanya menerapkan formasi 4411 yang mengebiri striker tajamnya sendiri, Tabarez akhirnya melibatkan Cavani dalam posisi yang agak melebar, Oktober lalu untuk pertama kalinya Cavani bertanding bersama dengan Suarez dan Forlan sejak menit pertama. Posisi Cavani adalah sayap kiri dalam formasi yang melibatkan empat gelandang, aneh rasanya melihat pemain paling tajam serie A menjadi seorang defensive winger yang berusaha meredam laju Pablo Zabaleta saat melawan Argentina. Pertandingan itu berakhir dengan kemenangan Argentina 3-0, meski Cavani menyatakan dia senang berada di posisi baru dan Tabarez disisi lain memuji profesionalisme Cavani, eksperimen itu gagal membawa dampak besar. Penampilan Uruguay semenjak memenangi Copa perlahan-lahan menurun, di kualifikasi Piala Dunia zona CONMEBOL posisi mereka juga tak aman.

Saat Urugiay kalah di pertandingan pertama Piala Konfederasi melawan Spanyol, Suarez dan Cavani menjadi starter. Di babak pertama serangan Uruguay mandek, Tabarez memasukkan Forlan untuk memberi suplai bola ke depan, masuknya Forlan membuat aliran bola bertambah baik dan Spanyol kerepotan. Uruguay bisa mencetak satu gol karena tendangan bebas hasil kombinasi Forlan dan Suarez. Saat melawan Nigeria, Tabarez memutuskan memakai formasi 3-4-3 dengan tiga penyerang maut menjadi ujung tombak. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ketiga striker terlibat dalam gol Uruguay secara bersamaan. Kendati demikian, memakai tiga orang penyerang dengan naluri serang tinggi sangat riskan bagi sektor sayap pertahanan Uruguay. Suarez dan Cavani yang ada disisi kanan dan kiri penyerangan Uruguay bukanlah pemain yang rajin membantu pertahanan. Akibat hal tersebut, Uruguay rentan diserang dari sektor sayap. Tabarez kembali harus memikirkan formasi yang pas saat Uruguay bertemu Brazil besok pagi.