Del Bosque: Spanyol Tak Akan Merubah Gaya Permainan

Del-Bosque spanyol tak akan merubah gaya permainan

Del Bosque: Spanyol Tak Akan Merubah Gaya Permainan

Bursa Taruhan Piala Dunia – Spanyol menerima pelajaran yang berharga ketika mereka melayani permainan kolektivitas yang diperagakan oleh Italia di semifinal Piala Konfederasi. Tim asuhan del Bosque harus sedikit kualahan menghadapi serang Andrea Pirlo dan kawan-kawan. Walaupun berakhir dengan kemenangan untuk Spanyol, banyak kalangan mengagumi penampilan Italia. Bahkan, pelatih Spanyol sendiri mengakui jika timnya keteteran menghadapi Italia. Untuk itu, banyak orang memprediksi Spanyol akan mempergakan pola permainan yang berbeda ketika mereka melakoni laga final Piala Konfederasi melawan tuan rumah Brasil. Akan tetapi, de Bosque mengatakan tidak ada yang beda dengan Spanyol. Tim asuhannya akan mempertontonkan pola permainan sepak bola yang sudah menjadi ciri dari tim Matador.

Permainan tim Matador tidak jauh beda dengan permainan Barcelona. Bola akan melaju dari lini belakang menuju lini depan melalui umpan kaki ke kaki yang diperagakan oleh para pemain. Umpan jarak pendek menjadikan tim Spanyol selalu lebih banyak menguasai penguasan bola dairpada lawannya. Oleh karena itu, banyak pelatih yang menerapkan pola serangan balasan untuk menaklukkan pola permainan ini. Setidaknya, Inter Milan di era Mou telah menumbangkan pola permainan tiki-taka ala Barcelona yang juga dipraktekkan oleh timnas Spanyol ini. Mengenai hancur pola permainan Spanyol, pertandingan semifinal Italia kontra Spanyol memiliki cerita tersendiri. Italia membuat permainan Spanyol sama sekali tidak berkembang pada waktu itu. Akan tetapi, kenyataan tersebut tidak lantas membuat sang pelatih timnas Spanyol akan menerapkan strategi yang berbeda pada final Piala Konfederasi melawan Brasil nanti. De Bosque mengatakan Spanyol akan tetapi dengan penuh keberanian melakoni laga tersebut dengan cara menghormati identitas serta gaya permainan Spanyol.

Sementara itu, striker Fernando Torres mengakui bahwa timnas Spanyol akan menghadapi tantangan yang berat di laga final Piala Konfederasi nanti. Pasalnya, banyak kalangan yang menganggap bahwa Spanyol akan menang mudah menghadapi tuan rumah Brasil. Selama Piala Konfederasi, Spanyol meraih kemenangan mutlak. Di babak penyisihan grup, Spanyol menjadi tim yang memuncaki klasemen. Selain itu, torehan yang tak kalah penting adalah ketika Spanyol mempermalukan Tahiti dengan 10 gol tanpa balas. Oleh karena itu, pantas jika Torres mengaku bahwa Spanyol akan menghadapi tantangan yang berat. Tantangan ini bukan karena Brasil yang dinaungi oleh para pemain apik dari negeri Samba seperti Neymar, Alves, dan masih banyak lagi. Akan tetapi, tantangan yang berat tersebut muncul dari ekspektasi serta prediksi dari pecinta sepak bola di mana Spanyol diprediksi akan mengulang kejayaannya di Piala Eropa dengan mudah. Pertandingan final Piala Konfederasi ini akan dihelat di Stadion Maracana senin tanggal 1 Juli 2013 dini hari waktu Indonesia bagian barat.

Pemain Inggris Yang Berkarier di Spanyol

pemain inggris yang bermain di spanyol

Pemain Inggris Yang Berkarier di Spanyol

Bursa Taruhan Piala Dunia – Rooney memang menjadi incaran Madrid. Sebelum Rooney sudah banyak pemain Inggris yang merumput di Spanyol. Sebagian dari mereka sukses berkarier di Spanyol namun tidak sedikit yang mencetak rekor yang buruk.

Laurie Cunningham salah satu pesepakbola Inggri yang pernah bergabung dengan Real Madrid pada tahun 1979 hingga 1984. Winger Inggris ini telah mencatatkan reputasinya sebagai bagian dari trisula legendaris dibawah asuhan pelatih Ron Atkinson di West Brom. Dia juga menjadi pemain pertama dari Inggris yang pindah ke Real Madrid dan saat itu dibeli dengan bandrol 950.000 poundsterling, tepatnya pada tahun 1979. Cunningham berhasil mencetak dua gol di laga debutnya dan membantu Madrid mencatat gelr ganda di liga dan piala domestik pada musim pertamanya. Pada musim kedua, dia mendapat pukulan cedera dan masalah indispliner. Akhirnya Cunningham dipinjamkan ke Sporting Gijon dan akhirnya dilepas ke Rayo Vallecano. Karirnya berakhir dengan tragis setelah tewas dalam kecelakaan mobil pada tahun 1989 di Madrid.

Gary Lineker juga merupakan pemain Inggris yang pindah ke Barca dengan bekal trofi Golden Boot Piala Dunia pada tahun 1986. Dia didatangkan olej manajer Terry Venables dengan harga 2,8 juta poundsterling. Dengan 21 gol dalam 41 laga membua Lineker menjadi sensasi pada saat itu. Yang paling mengesankan adalah ketika dia mampu mengemas hat trick pada saat melawan musuh abadi Barca yaitu Real Madrid. Dia mempersembahkan trofi Copa del Rey dan Winner’s Cup bagi Camp Nou. Setelah tidak menjadi pilihan utama pelatih Johan Cruyff akhirnya Lineker kembali ke Inggris untuk membela Tottenham.

Dalian Atkinson bergabung ke Real Socieded pada tahun 1990-1991 dengan bandrol 1,7 poundsterling. Harga yang terbilang sangat besar saat itu. Atkinson terbilang cukup sukses di negeri Matador tersebut dengan mencetak 12 gol dalam 29 pertandingan. Sayangnya dia kesulitan menempatkan dirinya sehingga dia kembali gabung ke Aston Villa. Steve McManaman adalah mantan winger Liverpool yang menjadi pemain tenar Inggris pertama yang pindah dengan status bebas transfer ke Madrid. Steve McManaman mencetak gol yang indah serta mendapat anugerah sebagai man of the match saat membawa Madrid ke final Liga Champions dengan mengalahkan Valencia dengan skor 3-0. Akhirnya di kembali ke Manchester City.

David Bechkam merupakan salah satu pemain Inggris yang sukses di Spanyol. Dia bermain untuk Real Madrid pada tahun 2003 hingga 2007. Beckham meninggalkan Manchester United dengan bandrol 25 juta poundsterling. Dia berhasil mencetak gol di debut kandangnya setelah 12 detik. Beckham mendapatkan kepercayaan berada di lini tengah Madrid bersama Zinedine Zidane dan Luis Figo. Pada musim panas 2007 dia memutuskan untuk pindah ke LA Galaxy dan mempersembahkan trofi juara la Liga bersama madrid di akhir karirnya.

Pemain Free Transfer Terbaik : Denis Law

Denis-Law

Pemain Free Transfer Terbaik : Denis Law

Bursa Taruhan Piala Dunia – Setelah membahas pemain berstatus free transfer terbaik seperti Luis Enrique yang pindah dari Real Madrid ke Barcelona, kini ada pemain lain yang akan dibahas. Melibatkan rivalitas yang cukup besar dimasanya, yakni Manchester United dan Manchester City.

Maret 1960, dan seorang pemain berusia 20 tahun dari Huddersfield Town, Denis Law adalah buruan beberapa klub terkenal. Newcastle United, Wolverhampton Wanderers, Manchester Citym West Bromwich Albion, Birmingham City dan Rangers semua mempersiapkan penawaran, tapi yang paling berpeluang besar untuk mendapatkan jasa pemain 20 tahun adalah Arsenal. Arsenal mengajukan tawaran senilai 50 ribu pounds. Bos mereka George Swindin mengatkaan “Denis adalah pemain hebat, gayanya bermain cocok dalam tradisi Arsenal, dan akan sangat luar biasa bila dia bisa bermain disini,” ditambah pula saran dari Tommy Docherty, yang mengatakan :”bila kau punya kesempatan, datanglah ke Arsenal! Mereka adalah klub besar!” Yang terjadi adalah Law bergabung dengan Manchester City meski telah ditawae 55 ribu pounds oleh Arsenal, dan tak lama setelah musim dumulai, Docherty yang marah mengatakan pada Koran the Sunday bahwa pemain muda itu telah salah memilih klub. “Denis akan menyesal dengan keputusan itu. Dia mengatakan ingin bertahan di First Division (liga utama Inggris sebelum era Premier League) dan bila ia memilih Manchester City saya meragukan dia dapat bertahan di sepak bola utama. LAW GAGAL DALAM MEMILIH TIM,” Teriak Docherty pada Mirror beberapa hari setelahnya. “Saya kecewa saat membaca (komentar Docherty) itu, respon Law. “Bodoh bila mengatakan tentang degradasi tepat saat kami memiliki start yang sempurna.” Musim itu City melaporkan Docherty pada Badan Liga Inggris karena bertindak tak pantas.

Tapi seperti biasanya, Law santai dengan kejadian itu, dan tentu saja berakhir dengan pekerjaan yang sangat bagus di Manchester United, Law juga bukan tipe yang menyimpan dendam. Takdir menentukan bahwa dia akan bermain dibawah arahan Docherty di pertandingan Internasional. Dia akhir tahun 1972, bos Manchester United Frank O’Farrell mulai berjuang untuk mendekatinya, selain O’Farrell, Sir Matt Busby juga berupaya untuk melakukan persuasi pada Law. Law yang terkesan dengan skill taktik yang dimiliki oleh Docherty dan kemampuannya dalam man-management akhirnya kembali bertanya, dan Docherty menjawab : “Saya memberikan dia (Law) banyak saran, kemudian Manchester United maju dan menangkapnya.” Law juga mengatakan : “Empat bukan setelah saya membantu dia dari pindu depan, the Doc ternyata mendorong saya melalui pintu belakang.” Di akhir musim 1972-1973, Docherty memanggil Law ke kantornya dan mengatakan kepada Law bahwa Manchester United telah memutuskan untuk membebaskan statusnya sebagai pemain di klub itu. Dia berstatus free transfer, striker tajam yang telah menjadi andalan Manchester United, bahkan kombinasinya dengan George Best dan Bobby Charlton disebut sebagai holy trinity, harus menerima kenyataan kalau dia tak diinginkan lagi oleh klub yang dicintainya. Law yang terkejut karena kontraknya masih bersisa setahun mengatakan bahwa dia memilih pensiun untuk klub yang dicintainya. Docherty keukeuh pada keputusannya, dan sebuah perjanjian telah dibuat bahwa Law akan bermain di pertandingan terakhirnya dalam seragam Manchester United dalam partai testimonial yang akan mengundang juara Eropa, Ajax Amsterdam – yang diangkat dengan tema Law vs Cruyff – setelah pertandingan itu dia sebenarnya akan pensiun. Sampai suatu hari manajer City, Jhonny Hart mengajak makan malam. Tak dinyana, momen itu menjadi momen comeback-nya dalam sepak bola, meski Cuma semusim. Law akhirnya menjadi pemain Manchester United lagi dan dia masih bisa mencetak banyak gol, salah satunya adalah gol ke gawang Manchester United. Gol yang menyebabkan Law menangis karena efek dari gol itu, Manchester United harus degradasi